blessing · myself · reminder

Mendahului takdir

Tadi malam, saya sempat mengobrol sampai  larut malam dengan seorang teman baru, sampai pada pertanyaan umur, dia kaget mendengar umur saya. 

“Ga keliatan kak, usianya segitu”

“Yah emang kelakukanku kayak bocah dan gaul sama bocah terus, jadi ga keliatan dewasa haha”

Lalu sampai pada pertanyaan. 

“Tetangga di rumah pada ngomong apa kak, liat kakak belum nikah di usia segitu”

Saya tertegun cukup lama. Sejujurnya saya pengen jawab gak tahu karena gak ada satu kata pun yang terlintas di pikiran saya untuk menjawab pertanyaan ini. Saya ga pernah kepikiran juga soalnya. Tapi akhirnya saya pun basa basi menjawab 

“Ya standarlah..nanya, terus nasihatin jangan ngejar karir dll”

Terus dia berbalik menceritakan dirinya.

“Aku dulu diomongin sekampung kak, yang gak gak, sampai akhirnya mutusin kuliah di sini, buat jadi orang yang baru dan ga ada yang kenal aku”

Saya tertegun cukup lama, selintas ingin bertanya sih, kenapa bisa gitu?. Tapi akhirnya saya urungkan. 

“Akhirnya yang nuduh aku yang gak gak itu, malah mengalami apa yang dituduhkan ke aku, kak” 

“Kamu marah ga?”

“Engga sih, udah aku maafin”

“Alhamdulillah..”

Saya pun jadi teringat beberapa hari yang lalu, saya mengobrol dengan salah satu teman, tentang keluarga yang broken karena suami mengalami puber kedua. 

“Biasanya gitu sih kalau laki-laki udah kaya, jabatan tinggi, godaannya wanita” 

“Jangan bilang gitu, jangan mendahului takdir”

Saya tertegun, beristigfar. Mendahului takdir, tanpa sadar saya sering melakukannya. 

Teringat lagi percakapan saya dengan teman baru yang lain 

“Disini aman kan ya daerah kostannya”

“Aman dong mbak, motor di luar aja berhari hari ga ada yang ambil, susah mereka kaburnya, kalaupun ada yang ambil ada ormas daerah di berbagai daerah sini, yang bisa bantu cari sampai ketemu”

Beberapa hari kemudian, teman saya tersebut mengabarkan bahwa motornya dicuri. 

Semoga saya bisa belajar menjaga lisan dari ucapan mendahului takdir baik takdir orang lain maupun takdir kita sendiri, karena tidak ada yang mungkin bagi Allah, jika Allah ridho maupun murka. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s