serial

Quote : Reply 1988 #1

“The rich are innocent and the poor are guilty. A person who has money is blameless while the other who has no money bears the blame.”

Jadi ceritanya saya selama sekitar 2 bulanan ini mengikuti satu drama korea : Reply 1988. Sebenarnya saya ga terlalu suka mengikuti drama korea, hanya beberapa saja yang saya ikuti. Kriteria drama yang saya ikuti adalah : drama yang ga terlalu drama (bingung ga tuh) dan minimal ada pengetahuan baru yang bisa saya dapat (susah amat ya si fika ini, yaabis kan nonton drama kan lumayan minta waktu, asa sayang kalau ga da hal baru yang bisa diambil). Beberapa yang sudah saya tonton itu Reply series (kecuali 1994, entah kenapa ga tertarik), Misaeng, Its Okay Thats Love, dan Lets Eat.

Jadi di salah satu episode series ini (saya lupa episode berapa) diceritakan tentang dua kondisi keluarga yang berbeda, keluarga yang miskin dan keluarga yang kaya. Keluarga yang kaya ini sih sebenarnya karena dapat undian lotre juga sih ya, semacam OKB jatuhnya, sedangkan keluarga yang miskin ini terpaksa jadi miskin karena si ayah keluarga ini harus membayar hutang temannya (atau saudaranya ya) ke bank.

Sang ayah keluarga yang miskin ini punya hobi beli barang karena rasa iba. Sering banget beli barang yang dijual nenek nenek tua atau temannya yang sedang susah.  Barang-barangnya kadang  bukan barang penting, contoh salah satunya adalah buku tentang bayi padahal anak mereka sudah remaja. Pada akhirnya sang ibu jadi sering marah karena kebiasaan ayah ini, karena bagi ibu mereka juga udah susah, jadi ga usah bantu orang sampai segitunya. Sampai bilang semua yang ga beres di kehidupan si ibu, penyebabnya adalah ayah. Haha. Berbeda dengan keluarga kaya satunya, sang ayah masih suka terbawa kebiasaan waktu susahnya, jadi suka pelit beli barang untuk diri sendiri (sampai beli jeruk pun dihitung sesuai jumlah anggota keluarga). Sang istri jadi kesal karena merasa malu melihat kelakuan suaminya (kalau bahasa jaman sekarang, kaya orang susah kali ya).

Familiar ga dengan peristiwa ini? kalau saya cukup familiar sih. Banyak sekali di kehidupan sehari-hari kejadian seperti ini. Salah satu kenapa saya mengikuti drama ini adalah karena realistis. Saya pun pernah mengalami kok, kadang terasa berat untuk membayar selisih harga seribu dua ribu kalau belanja di warung atau di pasar. Kesal kalau liat pencuri kecil dihabisi tapi koruptor malah makin tenar atau yang baru-baru aja terjadi di bali, ada yang membuat lengan buatan tapi dibully di medsos. Serba salah,ya?. Kesal mendengar ada sebuah pabrik di daerah saya, yang memproduksi atasan sepatu bermerk, tapi pegawainya kalau lembur ternyata cuma dibayar 15rb per jamnya.

Saya juga pernah mengalami baru-baru ini malah, ketika di ajak teman ke sebuah toko tas di mall. Saya dan teman saya yang waktu itu menenteng minuman, dihadang di depan pintu tapi oleh SPGnya, ga diperbolehkan masuk karena aturannya ga boleh bawa minum. Karena memang cuma mengantar  teman, akhirnya hanya saya hanya menunggu di luar. Ketika saya duduk di depan toko, saya lihat ada seorang laki-laki di toko tersebut yang membawa minuman juga, sedang duduk di dalam toko. Saya tersenyum miris, lalu muncul suudzon saya, oh mungkin karena penampilan saya yang cuma bergoan kali yah (iya pake bergo plus kaos ahaha). Akhirnya pas teman saya keluar, saya berdiri di depan pintu toko, lalu bilang pada spgnya ” Mba, itu ada yang bawa minuman juga, tolong ditegur ya” (sambil pasang senyum manis) lalu pergi hehe. Begitulah.

Dan salah satu yang paling saya ingat adalah saat ending dari episode ini, ketika ayah keluarga kaya diminta membeli jaket bermerk oleh sang istri, lalu pulang dengan jaket KW, si ayah kekeuh ini asli karena beli dari temannya sampai sang istri marah-marah (Mami Mi Ran gitu lho). Lalu sang istri cerita, kalau dulu waktu mereka susah ada seorang teman yang memberikan uang saat mereka benar-benar kesulitan. Ibu bilang supaya ayah berteman pilih-pilih, perbanyak teman dengan karakter kaya teman mereka itu. Lalu ayah bilang, kalau dia beli jaket dari teman yang dulu ngasih uang itu. Ibu pun diam.

Selain itu yang saya ingat juga prinsip ayah keluarga miskin yang keren, baginya uang banyak atau sedikit pasti kita ga bakalan puas, jadi kalau bisa bantu ya gapapalah, masih banyak orang kurang dari mereka di luar sana. Soalnya kan kadang lebih susah ya sedekah saat susah daripada saat lapang, pakai ilmu ikhlas banget. Pokoknya nonton serial ini buat saya banyak ngaca sih (apalagi soal keluarga), soalnya nyambung banget sama kehidupan sehari-hari.

*Quote di atas itu quote dari berita di TV yang ditonton ayah-ibu, quote dari seorang buronan yang kabur.

reply-1988

gambar diambil dari sini

Iklan

3 thoughts on “Quote : Reply 1988 #1

  1. Reply 94 mah gitu fik, ga oke emang 😅. Aku aja nontonnya sampe skip2 kalo ada yg nganu.. Ini Reply ternyata banyak dan beda2 tahun gini yaa.. *udah lama beut ga nonton koreaan sejak lepas dari fairus, kekeke*

    1. iya ya? 1994 aku cuma nonton sampe episode 2, ga minat lanjut hehe. Reply 1988 ini emang baru beres awal januari ini di koreanya. Haha, gpp..ga wajib >_<, lumayan ngabisin waktu soalnya kalau nonton drakor mah (faktor keponya siih)

      1. Oalah.. Ga ngaruh ya ternyata angka tahun di belakangnya. Kirain tuh tahun yg paling lama yg muncul duluan. Hehe.

        Iyaa.. Makin kesini berasa mikir mau nonton yg series2 gitu. Jadi nyari hiburan filmnya yang sekali abis 🙈😅. Semalem abis nontom the song of the sea. Bagus itu. Film tentang keluarga juga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s