jalan-jalan · kerjaan

Nusa Tenggara Timur dalam ingatan (2)

Akhirnya saya bisa lanjut cerita perjalanan NTT lagi. Bagian satu bisa dilihat disini.Hari kedua di Ropa, dihabiskan dengan bekerja (kan emang itu tujuan utamanya :D). Ropa sebuah desa kecil yang ramai. Saya sempat berkenalan dengan beberapa wanita penduduk lokal (yang lalu curhat betapa kesalnya mereka karena listrik mati, sedangkan mereka sedang khusyuk nonton liveshow pernikahan dua selebritis Indonesia :D). Keesokan harinya lanjut ke Ndungga dan Ende. Perjalanan darat ke Ndungga cukup lama (karena kami sambil bekerja), ada beberapa lokasi kerja yang ternyata letaknya jauh sekali dari akses jalan besar. Jadi tepat jam 12 siang kami baru sampai di Detusoko. Berbeda dengan Ropa yang panas, saat itu di Detusoko cuacanya sejuk malah gerimis beberapa saat. Lalu kami ke Ndungga. Jalan menuju Ndungga itu seperti ini.

Jalan yang masih diperbaiki, tapi harus dilalui
Jalan yang masih diperbaiki, tapi harus dilalui
Kiri jurang dan kanan tebing
Kiri jurang dan kanan tebing

Lumayan buat sport jantung kan ya (buat saya yang takut ketinggian dan lumayan suka parno di perjalanan). Apalagi kabarnya beberapa waktu sebelumnya, menurut Om Driver jalan disini tidak bisa dilalui karena longsor.

Sampai di Ndungga langsung kerja, dan kita balik lagi ke arah Detusoko, tepatnya menuju Desa Putuga yang aksesnya terdiri dari jalan berbatu, sepi, berkelok, kiri kanan jurang dan nyaris ga ada orang yang bisa ditanya. Saya sempat bertanya ke Om Driver, ini betul jalannya. Om Driver dengan yakin berkata ya, betul Mbak ini jalan alternatif kalau kita ke Maumere juga bisa, saya pernah lewat sini waktu jalan longsor. Dan Alhamdulillah sampailah kita di Putuga. Putuga yang masih kental nuansa adatnya. Rumah warganya pun menggunakan gaya arsitektur rumah adat.

Rumah adat di Desa Putuga
Rumah adat di Desa Putuga

Pekerjaan di Putuga selesai, lalu kita kembali ke Ende. Di Ende awalnya kami menginap di hotel langganan kantor, tapi ternyata kamar habis. Lalu kami pindah ke Hotel Safari. Review hotel Safari sendiri buat saya  cukup memuaskan. Plusnya kamar cukup luas, ada sarapan, dekat ke bandara minusnya kamar mandi kotor, fasilitas kurang bagus (tv, ac) mungkin karena hotel lama ya, atau kita aja yang dapat hotelnya kurang bagus J. Soalnya saya lihat sih lumayan banyak yang menginap, mulai dari warga lokal sampai bule.

Paginya saya sempat jalan jalan sendiri, jalan kaki sih soalnya kalau naik angkot belum hafal. Yang menarik di Ende adalah angkot full music dan volumenya kencang sangat. Istilah orang sini namanya diskotik berjalan. Selama saya berjalan kaki, banyak yang menawari naik jasa ojek motor tapi saya bilang tidak soalnya kan saya mau tahu suasana pagi di Ende. Saya jalan sampai bandara, lalu sambil ambil uang di ATM bandara. Pulangnya saya nemu toko oleh oleh khas, sayang tidak ada penjaganya.

Lalu saya kembali ke hotel untuk sarapan, lanjut ke Ndungga (karena ada yang belum selesai) lalu kerja di Ende. Dan pindah hotel. Hotel Syifa namanya. Hotel kecil tapi cukup nyaman. Nampaknya masih baru. Di depannya ada butik baju muslimah dan produk impor. Plusnya ruangan relatif baru, fasilitas oke, wifi kenceng, staf ramah, dekat ke Bandara, sarapan lumayan enak . Minusnya tempat parkir sempit. Karena nyaman kita memutuskan menginap disini saja. Karena request dua rekan tim saya “yang ada TVnya Mbak, mau nonton bola” (tetep). Lalu keesokan harinya urus kargo dan pesan tiket untuk hari itu, yang ternyata sudah habis padahal saya cari tiket langsung ke kantor airlines di bandara, dan sebelumnya sempat telpon ke travel untuk memastikan ketersediaan tiket.  Akhirnya saya langsung beli tiket untuk keberangkatan lusa. Karena hari itu agenda pekerjaan kita hanya setengah hari,  kita  memutuskan untuk mengunjungi Danau Kelimutu. Tentang Danau Kelimutu nanti saya tulis tersendiri.

Oia selama di Ende, saya menemukan beberapa mesjid (eh lupa..berapa ya) di seberang hotel Syifa sendiri ada mesjid. Di dekat hotel Safari ada TK Islam. Ternyata begini ya perasaanya melihat mesjid di rantau. Haru, senang dan rindu (simulasi tinggal di luar negeri #aamiin :D). Faktanya memang di Ende lebih banyak muslim. Kadang sesuatu  yang biasa kita temui, menjadi hal yang istimewa ketika mendadak menjadi tidak biasa kita temui ya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s