keluarga

Cinta itu Sederhana

Dulu sekali, saya sering berpikir “adakah cinta di dunia ini ?” (terdengar depresif ya :p). Bahkan  dulu saya termasuk “sungkan” pada orang tua. Ada beberapa hal yang menyebabkan itu. Lalu saya kadang berpikir , kenapa sih menjadi orang tua harus sebegitunya?. Iya, iya saya tahu. Banyak alasan, dari yang agamis hingga ilmiah. Tapi saya tetap penasaran. Sebegitunya maksudnya, ya mencintai sepanjang zaman. Tak terbatas. Berkorban apapun. Tak meminta balasan. Sebagai penganut, jika A maka B, otak saya kadang masih suka terpola, ah mungkin supaya saat beliau beranjak tua nanti, kami para anak tidak melupakan mereka. Tapi tidak. Alasan itu secara otomatis tertolak. Semakin tua orang tua saya , yang saya lihat beliau beliau – beliau semakin tidak menuntut. Hal-hal yang menurut kita, para anak adalah mesti harus diberikan agar beliau-beliau ini bahagia, ternyata tidak beliau-beliau tuntut. Subyektif memang. Tapi saya lihat lebih dari satu, juga begitu.

Lalu sampai pada masa, saya mengalaminya.  Belum menjadi orang tua , tapi menjadi kakak. Kakak sebenarnya. Dulu saya orang paling jarang ada di rumah. Bahkan saat SMA , saya tinggal asrama. Peran jadi kakak hanya saya rasakan kalau saya pulang. Namun saya berusaha menjadi kakak (meski tak sempurna). Hingga kemarin saya tinggal berdua bersama adik karena dia les di dekat tempat tinggal saya sekarang. Jadi kakak yang baik. Misi saya di awal. Yang ternyata tak semudah berkata. Susaaah. Jangan tanya. Masalah jadwal mencuci saja jadi perkara besar. Lucu. Dan akhirnya saya merasakan itu. Perasaan apapun akan kuberikan asal kau bahagia. Gombal tapi nyata. Apapun akan kulakukan asal kau berhasil. Dan apapun-apapun lainnya. Dan perasaan saya? Biasa aja. Merasa terkorbankan?. Awalnya ada, tapi lama-lama hilang. Jika jadi kakak saja begini, saya pikir jadi orang tua itu pastinya lebih dari ini. Sederhana. Asal kau bahagia maka akupun bahagia. Jika kau sukses, maka akupun merasa aku sukses. Jika kau gagal maka akupun merasa gagal (merembes mili hiks). Sederhana. Tanpa perlu berpikir, nanti saya dapat apa. Cinta. Akhirnya saya tahu itu. Saya pernah merasakannya pada sebuah “organisasi” (hingga kini) tapi itu perlu penanaman di otak dan hati. Ini berbeda. Dia datang secara sederhana.

Terima – kasih adiik sayang. Semoga hari ini ujiannnya lancar. Mendapat yang terbaik. Dan Bahagia. Berpisah belum tapi kangen sudah. Semoga kita sahabatan teruss yaaa..

???????????????????????????????

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s