myself · reminder

Mawar atau Melati?

Assalamu alaykumwrwb #gayaUpinIpin
Alhamdulilah  (sambil bersihin sarang laba2) akhirnya blogger abal-abal ini bisa kembali lagi. Setelah istirahat panjang yang akhirnya ada ujungnya juga :).

Sebenarnya dari kemarin-kemarin bahan untuk ngeblog itu ada tapiii selalu si-malas datang menghampiri. Nge-Draft (macam skripsi saja) pun tak tuntas2 (udah sama nasibnya seperti skripsi saya 😦 ). Sebenarnya kemarin-kemarin ingin cerita soal R.A Kartini, secara momennya kan pas. Tapi sekarang idenya udah menguap entah kemana (semoga kapan-kapan bisa diendapkan lagi 😀 ). Terus mau cerita juga soal Jugun Ianfu. Itu lho, kalau dalam  mata pelajaran sejarah Indonesia sering disebut pasukan wanita, padahal Jugun Ianfu adalah sebutan untuk wanita-wanita yang menjadi korban praktek kekerasan seksual yang diorganisir saat zaman penjajahan Jepang. Tapi idenya juga sudah menguap. Ini prolognya panjang bener. Jadi sebenarnya mau cerita apa? 😀

Mau cerita sedikit soal pernikahan (tiba-tiba terdengar suara ‘cie’ di ujung sana..:D). Sebuah lintasan pemikiran saja setelah membaca sebuah postingan blog mengenai curahan hati seorang perempuan (sebut saja Mawar) yang sampai saat ini belum menikah. Yang inti permasalahannya ialah mbak Mawar ini merasa tersinggung oleh gaya sang penegur beliau karena belum menikah juga. Sang penegur menyalahkan gaya mendidik Ibu mbak Mawar yang dirasa oleh yang menegur terlalu bebaslah penyebab mbak Mawar belum menikah sampai saat ini.

Entah kenapa setelah membaca postingan itu saya jadi berpikir. Melihat ke dalam hidup saya. Entah kenapa Allah selalu mempertemukan saya dengan mbak Mawar mbak Mawar lain  dalam kehidupan saya. Dan sebagai orang yang melankolis, saya selalu berhati-hati jika membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah datangnya jodoh ini dengan beliau2. Bukan apa apa, karena sering mendengar cerita mereka, saya jadi tahu rasanya jika ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan jodoh. Ada mbak Mawar yang tetap aktif dan sangat senang membantu orang lain. Ada mbak Mawar yang membangun bisnis dan mengabdi sebagai pengajar yang bukan dibayar, tapi justru harus menutupi semua kebutuhan anak didiknya. Ada mbak Mawar yang lanjut pendidikannya sampai S3. Ada mbak Mawar yang menjadi pimpinan dalam pekerjaannya. Mungkin itu hanya sebagian mbak Mawar yang saya kenal tapi ada satu kesamaan ketika ditanya tentang “Kapan?”. Wajah mereka selalu manis, sambil berkata “InsyaAllah pada waktu yang tepat”. Tapi setelah mendengar cerita mereka saya kira semanis apapun wajah beliau2 ketika ditanya, saya kira pasti ada sedikit perasaan yang tersentil, jauh di lubuk hati mereka yang mungkin tak bisa kita lihat.

Lain lagi cerita,entah kenapa saya juga sering dipertemukan dengan perempuan-perempuan yang dalam kondisi harus menikah karena disukai terlebih dahulu oleh lawan jenisnya (sebut saja mbak Melati). Lho, terus masalahnya apa? bagus kan?. Ya, mungkin untuk beberapa orang bukan masalah tapi bagi beberapa orang (sebut saja akhwat) hal itu mungkin menjadi masalah. Ketakutan-ketakutan yang timbul jika ternyata niat kita menikah menjadi tidak lurus lagi, menjadi tidak berkah, muncul kecondongan dll. Saya jadi tahu perasaan mereka, karena sering mendengar cerita mereka. Ada mbak Melati yang akhirnya memutuskan menerima dan sampai sekarang alhamdulillah harmonis. Ada mbak Melati yang memutuskan tidak menerima, tapi ternyata Allah tunjukan orang lain untuk jadi suaminya. Ada mbak Melati yang masih bingung memutuskan. Tapi saya kira semanis apapun wajah mereka, ketika mereka ingat tentang istilah grade menikah (A-E, lucu2-an  di kalangan ta’aruf-ers), saya kira pasti ada perasaan yang tersentil juga sama seperti mbak Mawar.

Jadi pertanyaan-pertanyaan saya di awal-awal paragraf tentang “Entah kenapa” saya kira sedikit bisa saya temukan jawabnya. Ternyata Allah sedang memberikan kuliah kepada saya melalui peristiwa-peristiwa di sekitar saya. Ajaibnya dari satu kuliah, banyak sekali bab yang bisa saya ambil. Dan itulah kuasa Allah, Sang Maha Tahu :).

Entah lah hanya kesimpulan itu yang bisa saya simpulkan dari lintasan pemikiran beberapa hari yang lalu. Saya kira hikmah bagi setiap orang akan berbeda. Kalau yang baca merasa ga penting, boleh banget ditutup tabnya hehe. Anggap saja ini celotehan dari seorang manusia yang sering dibilang pendiam :).

Jadi

Mawar … Melati…. semuanya indah

(karena Allah) 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s