myself · reminder

Beranjak (ceritanya) dewasa

Akhir Oktober itu selalu punya arti di hati saya. Karena setiap tanggal 31 (menurut masehi) jatah usia saya di dunia berkurang satu. Walaupun saya sebenarnya lebih suka kalau jatah itu dihitung dalam kalender hijriyah, tapi apalah daya dulu saya lahir bukan di bulan Ramadhan, jadi agak sulit mengingat tanggal lahir hijriyah saya (walaupun sebenarnya masih bisa dibantu dengan kalender hijriyah elektronik sebenarnya, tapi kalau penetapan 1 syawalnya beda beda,itu mempengaruhi ga ya?). Ada cerita lucu sebenarnya saat milad saya tahun ini.Jadi saya kan tidak mencantumkan tanggal lahir di akun facebook saya. Bukan apa-apa. Ada sumber yang mengatakan bahwa tanggal lahir merupakan salah satu data yang berpotensi untuk menimbulkan kejahatan(serius banget kayanya saya ya?). Niat awalnya sebenarnya bukan itu, mau ngetes ceritanya,siapakah (#gayaSilet) yang benar-benar ingat ulang tahun saya? haha aneh kan?. Nah, kembali ke topik, walhasil ga semua orang engeh hari itu saya milad. Dan saya senang dengan kondisi itu,awalnya inginnya saya nge’me time’. Mau seharian ‘kabur’ dari kampus (mau ke gramedia atau silaturahim ke sahabat waktu SD di Sukabumi). Tapi ternyata tanggal 31 oktober itu bertepatan dengan pemilihan Rektor IPB. Sebagai civitas akademika yang cinta almamater dan
peduli kondisi sekitar (#angkatsapu) saya tentu harus memilih rektor. Dan ternyata tanggal 31 itu hari Rabu saudara-saudara. Artinya?. Jadwal saya isi bensin ruhiyah. Ya memang pada dasarnya hari milad itu bukan untuk dirayakan tapi untuk dikaryakan 🙂 (alhamdulillah, Allah meluruskan niat saya). Nah yang pertama tahu saya milad adalah sesama pencari bensin ruhiyah ridho Allah. Setelah itu cerita lucu ini
dimulai. Syahdan, salah satu teman sesama pencari ridho Allah ini merequest pada teman di lingkaran pertemanannya yang hobinya jarkom informasi untuk menyebarkan info milad saya (hari itu ada 3 orang yang saya kenal, milad bareng saya).Sebut saja X. Dan..milad saya pun dijarkomkan. Berhubung X ini ga kenal saya (tapi saya kenal dia, berteman sebelah-sebelah) jadilah di belakang nama saya ada embel-embelnya (Rafika, katanya sih mantan sekretarisnya Y). Saya mau marah gimana (emang bener infonya) tapi ga suka nama saya dikaitkan dengan Y ini. Akhirnya saya nyengir dengan hati gondok. Lucunya di sebelah mana? lucu aja,.#ABnyakeluar. Yang jelas 22 tahun ini saya banyak belajar. Belajar memahami orang lain. Belajar mendengar. Belajar menghargai diri sendiri dan orang lain. Belajar lebih sabar. Belajar lebih realistis.

Dan lagi semangat-semangatnya belajar melafalkan

je m’appelle Fika….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s