myself · reminder

Standar

Sebagai mahasiswa tingkat akhir pembicaraan kami di kostan itu ga jauh-jauh dari tugas akhir, pekerjaan, dan kawan-kawannya. Belakangan yang sedang hits  di bicarakan ini adalah soal pekerjaan. Salah satu tahap kehidupan yang akan dilalui setelah serangkaian proses bernama kuliah. Bekerja. Ngomongin pekerjaan itu ada 2 dampaknya termotivasi atau terintimidasi. Termotivasi kalau lihat temen kita dapat pekerjaan yang menyenangkan, menyenangkan secara psikologis, lingkungan dan gajinya hehe. Terintimidasi kalau ternyata sampai sekarang temam yang sudah lulus lebih dulu dari kita, belum juga dapat kerja atau ternyata sama2 meminati pekerjaan yang kita incar. Bagi saya standar pekerjaan bagus itu menyenangkan secara psikologis, bermanfaat bagi orang lain, lingkungan oke, gajinya sepadan. Kalau kata seorang teman :

Tapi ketika hidup gue dieksploitasi untuk uang, gue mau tempat gue dieksploitasi adalah tempat yang paling gue suka dan membuat hidup gue nyaman setiap harinya.

Dan memang di antara semua itu, bagi saya hal pertama yang jadi pertimbangan saya ialah jika kita secara psikologis nyaman dengan pekerjaan kita. Sesuatu yang disebut passion. Saya suka iri kalau ada orang yang sukses dan bisa menghasilkan ‘sesuatu’ dari hobinya/passionnya. Semoga kelak pekerjaan yang sudah Allah tulis di Lauhul Mahfudz itu adalah pekerjaan yang terbaik bagi saya dan sesuai dengan passion saya.

Kata standar itu unik dan menarik. Karena? standar itu relatif. Contohnya : saya menetapkan standar mie instan enak itu ialah kalau warnanya sudah kuning tapi masih krenyes-krenyes, untuk teman saya standar mie instan enak itu kalau matang banget sampai lembek (contoh kasusnya mahasiswa banget ya? :)). Bagi sebagian orang standar bisa makan itu ialah makan dengan menu  4 sehat 5 sempurna, bagi sebagian yang lain ialah makan nasi dan lauk itu artinya bisa makan, tapi bagi sebagian yang lain bisa makan itu ialah bisa menemukan sesuatu yang bisa dimakan dan dicerna lambung.

Kadang-kadang kesalahan manusia (khususnya saya) ialah memaksakan standar diri kita kepada orang lain tanpa bertanya bagaimana standar orang yang kita paksa menerima standar kita. Kecuali memang ada kesepakatan bersama tentang standar tersebut, sering disebut standar baku. Contohnya misal, suatu hari saya memasakan mie untuk teman saya yang standar enaknya seperti yang sudah disebutkan di atas. Dan setelah saya membuatkan mie untuk dia, dia tidak menyentuh sama sekali. Saya kemudian marah. Wajar?, tentu karena saya tidak tahu kalau standar mie instan teman saya ini. Coba kalau saya tanya dulu, kamu suka mienya seperti apa? rasa apa? kematangannnay gimana? tentu masalahnya tidak akan sampai sebegitu parah.

Saya juga sering terjebak pada standart-lag ini, apalagi kalau soal memimpin dan dipimpin.
Bingung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s